Pendidikan Pesantren sangat Penting Di Era Globalisasi

Pendidikan Pesantren sangat Penting Di Era Globalisasi

Pendidikan Pesantren sangat Penting Di Era Globalisasi- Pondok pesantren pada awalnya di-setting sebagai lembaga pendidikan non-formal. Surau, Masjid dan pemondokan santri menjadi ruang aktifitas sentral para santri belajar ilmu. Ilmu yang dipelajari secara umum berkutat pada persoalan disiplin ilmu agama (baca; Islam), semisal fiqh, tasawwuf, nahwu, shorof, tauhid, tajwid dan semacamnya, yang jadi rujukan juga seputar kitab kuning klasik, sebuah karya cendikiawan Islam (Ulama) yang rata-rata ditulis pada abad pertengahan. Hal semacam itu membuat beberapa kalangan menjuluki kaum pesantren sebagai kaum tradisionalis.
Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang telah banyak memberikan saham dalam pembentukan manusia di Indonesia yang religius.

Pendidikan Pesantren sangat Penting

Pesantren sudah banyak melahirkan pemimpin bangsa pada masa lalu, kini, dan sepertinya juga pada masa yang akan mendatang. Semua itu tidaklah terlepas dari peranan seorang guru atau kiai dalam menghasilkan santri yang berkarakter atau berakhlak yang mulia.
Seiring berjalannya waktu, tuntutan zaman kian kompleks. Pesatnya keilmuan yang semakin spesifik serta perkembangan teknologi terus menuntut pesantren tetap bisa menjadi lembaga pendidikan yang selalu survive. Alhasil, pesantren juga membuka pendidikan umum mulai dari SD-MI, SLTP-MTs, SMA-SMK-MA-MAK, bahkan Perguruan Tinggi. Sungguh ini capaian yang luar biasa. Selain menjadi lembaga pendidikan agama, pesantren juga membuka ruang untuk siapa saja yang ingin memperdalami ilmu umum.

Ruang lingkup pesantren yang sangat baik

Ruang lingkup pesantren juga lebih diajarkan nilai-nilai agama dalam menghadapi masalah-masalah yang ada di kehidupan sehari-hari, tidak hanya semata-mata diajarkan nilai-nilai agama tetapi di dalam pesantren kita juga diajarkan ilmu umum seperti matematika, biologi, kimia, fisika, dan ilmu umum seperti layaknya sekolah pada umumnya. Banyak orang menganggap bahwa santri itu kuno, tertinggal, sangat jauh dari peradaban. Padahal kehidupan di pesantren tidak seperti apa yang mereka bayangkan selama ini, banyak dari kalangan santri yang sudah menjuarai lomba-lomba umum semacam lomba membuat robot, lomba sains dan bahkan sudah banyak yang Go Internasional. Itu membuktikan bahwasanya kami para santri juga bisa bersaing dengan para siswa di luar sana. Bahkan bisa dikatakan bahwa kami lebih unggul dibanding mereka yang hanya sekolah umum, karena di dalam pesantren kita mendapatkan dua ilmu sekaligus yakni, ilmu agama dan ilmu umum seperti layaknya sekolah biasa.

“كن عالما أو متعلما أو مستمعا ولا تكن رابعا فتهلك”
“Jadilah pembelajar, atau pengajar atau orang pendengar ilmu, dan jangan menjadi yang keempat, maka kamu akan celaka.”
Menjadi santri, berkaca pada ungkapan Kiai Saifuddin Zuhri, bukan hanya mengaji. Santri harus berani bersuara untuk masyarakat dan membenahi masyarakat. Tentunya, dengan cara-cara yang baik dan tanpa menghakimi, alias memerhatikan situasi dan kondisi masyarakatnya. Inilah khas santri dengan mengedepankan akhlak dan nilai-nilai. Mengenai eksistensi, sebagian masyarakat menilai santri hanya tentang pengajian. Padahal banyak santri yang sudah menjadi tokoh dan sudah memberi kontribusi dan menempati posisi penting. Seperti Gus Dur, Pak Lukman Hakim (Menteri Agama), Imam Nahrawi (Menpora) dan lainnya.
Apalagi hidup di dalam pesantren kita bisa lebih menghargai sesama manusia karena di pesantren itu kita hidup bersama tanpa memandang suku, ras, dan budaya. Semua sama di pesantren, seperti yang ada di ajaran agama Islam kita semua sama di mata Allah hanya saja yang membedakan ketakwaan kita kepada-Nya. (“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan harta kalian. Namun yang Allah lihat adalah hati dan amalan kalian”) (HR. Muslim)
👉 TRENDING :   nokia terbaru 2022 dan harganya mirip iphone